Temukan Materi Sekolah dan Kuliah di sini

Temukan Materi Seputar Pelajaran Sekolah dan Kuliah di sini....,:-)

Friday, September 30, 2011

Teori Undasi

     Teori Undasi adalah teori yang disusun oleh Van Bemmelen untuk menjelaskan proses terbentuknya busur-busur pegunungan yang menjadi kerangka pokok pulau-pulau di Indonesia dan sekitarnya. Teori ini sudah lama, dan sejak munculnya Teori Tektonik Lempeng Sekitar 1967, kurang menarik lagi bagi ahli geologi. Dengan kata lain, teori Undasi sudah ditinggalkan orang, digantikan oleh teori Tektonik Lempeng yang lebih banyak menjawab permasalahan yang berkaitan dengan gejala alam seperti gempa bumi dan vulkanisme. Teori Undasi hanya sebatas pembanding saja dewasa ini.
     Undasi adalah penggelombangan, sperti gelombang air yang terjadi apabila kita melemparkan batu ke kolam. Ad dua macam penggelombangan yaitu Undasi dan Oscillasi. Undasi merupakan penggelombangan yang agak teratur tetapi periodik/terputus-putus, artinya selang beberapa waktu lamanya muncul baru muncul penggelombangan berikutnya. Istilah ini digunakan oleh Van Bemmelen dan Stille. Oscillasi adalah pengelombangan yang teratur seperti getaran senar. Istilah ini digunakan oleh Haarmann dan Bailys.
     Secara ringkas Van Bemmelen berpendapat bahwa terbentuknya rangkaian busur pegunungan di Indonesia seperti terbentuknya gelombang air pada saat kita melemparkan batu ke air, menyebar dari suatu pusat undasi (tempat batu jatuh di kolam) di mana selang beberapa saat kemudian akan terbentuk busur gelombang yang melingkari pusat undasi dan selanjutnya makin menyebar ke luar sampai akhirnya tidak nampak lagi penggelombangan di tempat yang jauh dari pusat penggelombangan tadi. Dua busur gelombang yang terbentuk paling luar disebut busur luar dan busur dalam.

     Untuk memahami teori undasi sebagaimana telah dikemukaan secara ringkas, maka secara berturut-turut akan dibicarakan: Prinsip Umum Teori Undasi, Beberapa istilah Tektogenesis, Lapisan-lapisan Silikat, dan Proses Hypodifferensiasi.
1. Prinsip Umum Teori Undasi
     Prinsip umum proses pembentukan pegunungan di Indonesia menurut teori undasi sebagai berikut:
a. Siklus pembentukan pegunungan dimulai dari pusat diastropisme di sumbu geosinklin utama yang terbentuk pada era Paleozoikum muda.
b. Dari sumbu geosinklin ini terjadi pelengkungan ke atas membentuk geantiklin yang mungkin bersifat vulkanik. Pengangkatan geantiklin tersebut dikompensasikan oleh adanya pelengkungan ke bawah di kedua sisi geantiklin tadi yang disebut side deep (palung samping).
c. Setelah 20-30 juta tahun kemudian, dari palung samping tadi muncul genatiklin baru yang mula-mula bersifat non vulkanik. Palung kompensasi terbentuk lagi di sisi luar yang disebut palung depan (foredeep). Geantiklin I menurun kembali menjadi basin sentral.
d. Geantiklin yang terangkat dari foredeep sperti itu akan menghasilkan serangkaian penggelombangan di mana pengangkatan I bersifat non vulkanik, pengangkatan II bersifat vulkanik, dan pengangkatan III aktivitas vulaknisme telah padam (post vulkanik). Sifat ini khususnya berlaku untuk penggelombangan di daerah antara Asia dan Australia yaitu Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. Di Filipina, Sumatera dan Jawa yang berbatasan dengan dasar laut dalam, pengangkatan III masih bersifat vulkanik karena teradi pengaktifan kembali vulkanisme. Lain lagi di daerah Birma, di mana busur dalamnya telah padam karena diapit oleh Semenanjung India dan massif Thailand-Kamboja.
e. Setelah puluhan juta tahun kemudian, dari foredeep muncul lagi geantiklin baru dengan kompensasi berupa foredeep baru dari sisi luar, yang dalam melewati waktu mengalami pula serangkaian pengangkatan dan penurunan dengan ciri umum pengangkatan I nonvulkanik, pengangkatan II vulkanik dan pengangkatan III post vulkanik.
f. Demikianlah selanjutnya, pengangkatan geantiklin baru terjadi di foredeep sehingga semakin jauh dari pusat penggelombangan.
g. Gaya endogen di daerah bagian tengah (daerah yang disebutkan dalam point b dan c) pada masa ini kurang lebih telah padam, Basin sentral yang luas ini berkembang menjadi patahan blok antar pegunungan dengan ciri-ciri benua (sudah stabil).
   Demikianlah serangkaian busur pegunungan terbentuk main menyebar ke arah luar dari pusat undasi di sumbu geosinklin, yang pada akhirnya akan berhenti bila telah mencapai tepi benua.

2.  Tektogenesis
     Tekotonik adalah segala gerak-gerak di dalam kerak bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan/deformasi bentuk kerak bumi. Haarmann (1930) membedakan tektonik atas: Tektonik Primer dan Tektonik Sekunder. Tektonik Primer adalah gerak vertikal dari dalam yang menyebabkan deformasi kerak bumi. Arah gerakan tegak lurus pada permukaan geoid. Undasi termasuk dalam tektonik primer. Berdasarkan besarnya   undasi, Van Bemmelen membedakan undasi menjadi beberapa macam, yakni sebgai berikut:
a. Geo Undasi
     Meliputi daerah yang lebarnya 1.000 km atau lebih, berupa plato benua dengan kompensasi berupa cekungan dasar laut/geosinklin. Menurut W. Wahl, interval terjadinya geo undasi rata-rata 165 juta tahun (maksimum 231 juta tahun dan minimum 95 juta tahun). Terjadinya penggelombangan ini berkaitan dengan peristiwa kimia fisika/hipodiferensiasi di lapisan subcrustal sampai kedalaman 800 km.
b. Meso Undasi
     Lebarnya sampai beberapa ratus kilometer dengan interval penggelombangan hanya puluhan juta tahun, dan berkaitan dengan proses hipodiferensiasi di lapisan salsima dengan kedalaman kurang dari 100 km.
c. Minor Undasi
    Lebarnya hanya puluhan kilometer dan terbatas pada lapisan epidermis saja.

Tektonik Sekunder adalah reaksi gravitasional terhadap tektonik primer untuk mencapai keseimbangan. Arah gerakan terutama sejajar permukaan geoid. Menurut dalamnya lapisan kerak bumi yang terpengaruh/mengalami deformasi, maka tektonik sekunder dibedakan atas:
 1)  Tektonik Sekunder Bathydermal dan Subcrustal: peubahan kerak bumi yang meliputi bagian dari zone migmatit sebgai akibat dari tektonik sekunder, digolongkan tektonik sekunder bathydermal. Kalau tebal lapisan yang mengalami deformasi lebih dalam lagi maka digolongkan tektonik sekunder subcrustal. Contoh di Selat Sunda pada Plio-Pleistosen banyak terjadi vulkanisme yang mengeluarkan banyak magma sehingga bagian bawah kosong menyebabkan terjadinya pemerosotan sedalam 6.000 meter.
2)  Tektonik Sekunder Dermal: perubahan kerak bumi yang dihasilkan tektonik sekunder tidak begitu dalam, hanya sampai laisan sila. Contoh di Nusa Tenggara barat di mana sisi utara mengalami longsor ke utara, ke dasar laut Flores sehingga kompleks gunung-gunung yang di tengah pulau Jawa menjadi mendekati pantai utan di Bali dan Lombok dan makin e timur makin ke utara bahkan di Sumbawa dan Flores sudah terletak di laut.
3)  Tektonik Sekunder Epidermal: perubahan kerak bumi hanya meliputi lapisan sedimen yang belum kokoh di bagian luar kerak bumi. Termasuk di dalamnya antara lain: slumping, squeezing out, volcano-tectonic collapse, free-gliding dan compressive settling.


3 comments:

  1. wah..ini dy..pasangin gambar juga donk pak zul....,

    ReplyDelete
  2. gambarnya masih tak buatkan dengan cara manual..,soalnya browsing g'dapet2..,hehe..
    ditunggu ja y..,

    ReplyDelete
  3. tidak menyangka kalau blog ini milikmu, Zul...
    untung aku masih mengenali sosokmu dalam foto yang tidak begitu jelas, hehehehe
    Sippp...inilah profil mahasiswa dari kampus unggulan yang aktif berkarya untuk mempublikasikan endapan geografi akademik yang telah diperoleh selama ini... :D

    ReplyDelete